Rabu, 11 Januari 2012
Dracula, Pembantai Umat Islam Dalam Perang Salib
Makalah ini disampaikan dalam bedah buku Dracula, Pembantai Umat
Islam dalam Perang Salib” di auditorium Fakultas Ilmu Budaya UGM Oleh:
Ragil Nugroho
Membongkar Sebuah Kebohongan
Kisah hidup Dracula merupakan salah satu contoh bentuk penjajahan
sejarah yang begitu nyata yang dilakukan Barat. Kalau film Rambo
merupakan suatu fiksi yang kemudian direproduksi agar seolah-olah
menjadi nyata oleh Barat, maka Dracula merupakan kebalikannya,
tokoh nyata yang direproduksi menjadi fiksi. Bermula dari novel buah
karya Bram Stoker yang berjudul Dracula, sosok nyatanya kemudian semakin
dikaburkan lewat film-film seperti Dracula’s Daughter (1936), Son of
Dracula (1943), Hoorof of Dracula (1958), Nosferatu (1922)-yang dibuat
ulang pada tahun 1979-dan film-film sejenis yang terus-menerus
diproduksi.
Lantas, siapa sebenarnya Dracula itu?
Dalam buku berjudul “Dracula, Pembantai Umat Islam Dalam Perang
Salib” karya Hyphatia Cneajna ini, sosok Dracula dikupas secara tuntas.
Dalam buku ini dipaparkan bahwa Dracula merupakan pangeran Wallachia ,
keturunan Vlad Dracul. Dalam uraian Hyphatia tersebut sosok Dracula
tidak bisa dilepaskan dari menjelang periode akhir Perang Salib. Dracula
dilahirkan ketika peperangan antara Kerajaan Turki Ottoman-sebagai
wakil Islam-dan Kerajaan Honggaria-sebagai wakil Kristen-semakin
memanas. Kedua kerajaan tersebut berusaha saling mengalahkan untuk
merebutkan wilayah-wilayah yang bisa dikuasai, baik yang berada di Eropa
maupun Asia . Puncak dari peperangan ini adalah jatuhnya
Konstantinopel- benteng Kristen-ke dalam penguasaan Kerajaan Turki
Ottoman.
Dalam babakan Perang Salib di atas Dracula merupakan salah satu
panglima pasukan Salib. Dalam peran inilah Dracula banyak melakukan
pembantain terhadap umat Islam. Hyphatia memperkirakan jumlah korban
kekejaman Dracula mencapai 300.000 ribu umat Islam. Korban-korban
tersebut dibunuh dengan berbagai cara-yang cara-cara tersebut bisa
dikatakan sangat biadab-yaitu dibakar hidup-hidup, dipaku kepalanya, dan
yang paling kejam adalah disula. Penyulaan merupakan cara penyiksaan
yang amat kejam, yaitu seseorang ditusuk mulai dari anus dengan kayu
sebesar lengan tangan orang dewasa yang ujungnya dilancipkan. Korban
yang telah ditusuk kemudian dipancangkan sehingga kayu sula menembus
hingga perut, kerongkongan, atau kepala. Sebagai gambaran bagaimana
situasi ketika penyulaan berlangsung penulis mengutip pemaparan
Hyphatia:
“Ketika matahari mulai meninggi Dracula memerintahkan penyulaan
segera dimulai. Para prajurit melakukan perintah tersebut dengan
cekatakan seolah robot yang telah dipogram. Begitu penyulaan dimulai
lolong kesakitan dan jerit penderitaan segera memenuhi segala penjuru
tempat itu. Mereka, umat Islam yang malang ini sedang menjemput ajal
dengan cara yang begitu mengerikan. Mereka tak sempat lagi mengingat
kenangan indah dan manis yang pernah mereka alami.”
Tidak hanya orang dewasa saja yang menjadi korban penyulaan, tapi
juga bayi. Hyphatia memberikan pemaparan tetang penyulaan terhadap bayi
sebagai berikut:
“Bayi-bayi yang disula tak sempat menangis lagi karena mereka
langsung sekarat begitu ujung sula menembus perut mungilnya. Tubuh-tubuh
para korban itu meregang di kayu sula untuk menjemput ajal.”